PTSB
PENDALAMAN
TERAPI SHOLAT BAHAGIA
Pendalaman
terapi sholat bahagia atau yang biasa disebut (PTSB) merupakan salah satu
kegiatan yang wajib diikuti oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya yang diajar oleh Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz, M.Ag sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah yang
diajar beliau. Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag dibantu oleh dua asistennya, yaitu bu Ati’ Nur Syafa’ah M.Kom.I
dan bu Baiti Rahmawati S.Kom.I.
Pendalaman
terapi sholat bahagia (PTSB) diikuti oleh mahasiwa dengan tibgkatan yang
beragam. Terdapat mahasiswa program sarjana semester satu, juga terdapat mahasiswa
program pasca sarjana. Mahasiswa yang hadir juga tidak hanya program studi
tertentu saja. Namun, terdapat berbagai program studi bermacam-macam. Seperti program
studi ilmu komunikasi danprogram studi manajemen dakwah.
Pendalaman
terapi sholat bahagia (PTSB) dilaksanakan di kun yaquta jalan siwalankerto
tengah 6 Surabaya. Pada hari sabtu, 23 november 2019. Dipandu langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, atau yang
biasa disapa Prof Ali. Dibantu oleh dua asistennya, yaitu bu Ati’ Nur
Syafa’ah M.Kom.I dan bu Baiti Rahmawati S.Kom.I. Pada awalnya, jadwal yang
telah disebarkan pada para mahasiswa tertulis bahwa pendalaman terapi sholat
bahagia (PTSB) dimulai pada pukul 06.30 wib. Namun, pada kenyataanya acara pndalaman
terapi sholat bahagia (PTSB) yang dibuka
langsung oleh ibu Ati’ Nur Syafa’ah M.Kom.I kurang lebih dimulai pada pukul
07.00 wib. Para mahasiswa diharapkan datang sebelum jam 06.30 untuk
mengantisipiasi keterlambatan acara. Namun, alhamdulillah sebelum pukul 06.30
mahasiswa sudah banyak yang hadir di tempat acara. Meskipun banyak mahasiswa
yang rumahnya jauh, tetapi semangat mereka untuk mengikuti acara ini sangat
besar. Dibuktikan dengan kehadiran mereka tepat waktu.
Meskipun
masih terdapat beberapa mahasiswa yang datang terlambat, namun mayoritas
mahasiswa sudah datang tepat pada jam yang ditentukan. Beberapa mahasiswa yang
datang terlambat melebihi batas yang ditolerir oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag tidak diperbolehkan masuk. Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag bahkan menyarankan mereka yang tidak ikut serta dalam
acara yang seharusnya diikuti, mereka harus tetap mengikuti acara pendalaman
terapi sholat bahagia (PTSB) dilain waktu dengan membayar senilai harga sesuai
harga yang asli. Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag merupakan salah satu dosen yang benar-benar mengajarkan kita tentang
kedisiplinan. Beliau tidak hanya memberikan nasihat. Namun, beliau memberikan
contoh secara konkrit, secara nyata bahwa kedisiplinan itu sangat penting. Apalagi
diterapkan bagi mahasiswa. Kalau misal mengikuti di pendalaman terapi
sholat bahagia (PTSB) yang telah dikhususkan oleh Prof Ali, maka kita dapat
harga khusus dengan diskon yang terbilang cukup besar. Acara pendalaman terapi
sholat bahagia (PTSB) pada tahun kemarin tidak dilaksanakan, entah karena ada
hal tertentu atau karena apa. Nah, pendalaman terapi sholat bahagia (PTSB)
dilaksanakan kembali tahun ini dan dilaksanakan lebih awal, karena Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag sudah ada jadwal keluar negeri atau kota pada
akhir tahun ini. Sehingga, jadwal pelatihan terapi sholat bahagia dilaksanakan
lebih awal. Selain itu, perkuliahan juga sudah berakhir kurang lebih dua minggu
sebelum pendalaman terapi sholat bahagia (PTSB) dilaksanakan.
Pada pembukaan acara pendalaman terapi sholat bahagia (PTSB)
ditampilkan beberapa slide pengenalan pemateri/trainer yaitu Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag. beberapa testimoni, galeri foto yang di dokumentasikan. Pendalaman terapi
sholat bahagia (PTSB) tidak hanya
dilaksanakan di negara Indonesia saja. Namun, juga dilaksanakan di luar negeri
seperti Hongkong dan Taiwan. Beberapa testimoni juga ditampilkan pada acara
pembukaan. Seperti contoh:
1. Suamiku di Indonesia kawin lagi. Aku linglung. Sekarang aku bahagia menikah dengan KEKASIH yang tiada berkhianat: Gusti Allah” -Ibu xxxx, Taiwan
1. Suamiku di Indonesia kawin lagi. Aku linglung. Sekarang aku bahagia menikah dengan KEKASIH yang tiada berkhianat: Gusti Allah” -Ibu xxxx, Taiwan
2. Kakiku
lumpuh. Tiga tahun saya hanya bisa BAB jika dengan obat. Sekarang bisa BAB
lancar tanpa obat.” -Dyah, Sidoarjo
3. Ketika praktek TSB, dada sesak karena haru. Saya berhasil
merubah cara berfikir saya”
-Yuuswatun Hasanah, Hong Kong
-Yuuswatun Hasanah, Hong Kong
Beberapa contoh diatas
merupakan contoh testimoni yang saya ambil dari sumber https://www.terapishalatbahagia.net/testimoni/pemraktek/
Webiste
tersebut merupakan website resmi pelatihan terapi sholat bahagia.
Dari
awal sampai di tempat pelaksanan acara, para mahasiswa langsung diberikan buku panduan
pendalaman terapi sholat bahagia. Buku pendalaman terapi sholat bahagia baru
ditulis setelah lebih dari dua puluh kali pendalaman terapi sholat bahagia
(PTSB) dilaksanakan. Baik dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam beberapa
kali pendalaman terapi sholat bahagia (PTSB) ada sejumlah pertanyaan peserta
tentang beberapa hal sebagaimana tergambar dalam daftar isi buku tersebut. Buku
tersebut berisi runtutan pelaksanaan sholat bahagia. Sebelumnya para mahasiswa
sudha diberikan tugas berupa membuat tulisan atau mencatat tentang 4 poin dalam
kehidupan, yaitu tentang sepuluh rang yang paling berjasa dalam kehidupan kita,
lima orang yang menjengkelkan dalam kehidupan kita, sepuluh perbuatan dosa yang
telah kita lakukan, dan nikmat tuhan yang telah kita dapatkan dan kita rasakan
dalam kehidupan ini. Catatan tersebut dibawa saat pelatihan terapi sholat
bahagia.
Diterangkan
secara langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. bahwa terapi
merupakan cara khusus. Terapi sholat bahagia adalah cara khusus sholat bahagia.
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Tidak ada agama yang menyuruh pada
kebaikan, kecuali islam.
Prof ali menyampaikan banyak hal
sebelum menjelaskan sholat bahagia. Pertama tentang takdir.
“ Barang siapa yang tidak senang
dengan keputusan dan takdirku maka hendaknya ia segera mencari tuhan selain aku”
Kutipan tersebut diambil dari At-Thabrany.
Kutipan lain diantaranya:
“ Barang siapa tidak beriman pada
takdirku enak atau tidak enak. Maka, aku akan mengurusnya lagi”
Kutipan tersebut diambil dari Abu
Ya’la
Prof Ali menjelaskan secara
langsung bahwa dengan mengeluh, sama dengan kita tidak bisa menerima takdir
yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan mengeluh, kita tidak akan bisa
menyelesaikan suatu permasalahan. Konsekuensi hidup adalah berteman dengan
masalah. Setiap orang pasti mempunyai masalah dalam hidupnya. Namun, akan
terasa berbeda jika kamu menerima semuanya, dengan merelakan apa yang
sebenarnya kamu inginkan. Dan selalu ikhlas dengan penuh bahagia. Mencoba
menerima semua yang ditakdirkan oleh Allah SWT.
Kemudian, beliau juga menjelaskan
beberapa syarat doa. Diantaranya adalah stop protes dan berlatihlan berfikir. Beliau
memberikan kalimat kunci dalam proses penyampaian pendalaman
terapi sholat bahagia (PTSB) yaitu, SUBHAN TURUT HADIR di MASJID untuk AKSI
SOSIAL. Penjelasannya sebagai berikut:
1.
Posisi berdiri.
Kalimat kunci yang digunakan adalah SUBHAN. Singkatan dari
Syukur, Bimbingan, Ketahanan Iman.
Renungan/ doa (dalam hati, tidak boleh diucapkan)
a)
Syukur: “ Wahai Allah, aku
bersyukur atas semua nikmat-Mu”
b)
Bimbingan: “ Bimbinglah aku dan
keluarga agar tetap di jalan yang benar”
c)
Ketahanan iman: “Berilah aku
ketahanan iman untuk melawan hawa nafsu agar selamat dari kesesatan dan
murka-Mu”
Tambahan (jika ingin lebih detail)
a) Aku berterimakasih atas semua
nikmat-Mu, yaitu (sebutkan nikmat-nikmat yang telah tuhan berikan). Ampunilah aku,
karena sering mengeluh dan kurang berterimakasih kepada-Mu.
b) Wahai Allah, setiap saat, aku,
istri/suami dan anak-anakku menghadapi godaan dosa, terutama godaan harta dan
nafsu terhadap pria atau wanita yang Engkau haramkan. Berikan kami ketahanan
iman agar ketampanan, kecantikan, kekayaan, dan fasilitas kekuasaan tidak
menjerumuskan kami ke dalam dosa.
2.
Posisi rukuk.
Kalimat kunci yang
digunakan adalah TURUT. Singkatan dari Tunduk dan Menurut.
Renungan/ doa (dalam hati, tidak boleh diucapkan)
a) Tunduk: “Wahai Allah, aku tunduk
membungkuk kepada kehendak-Mu. Aku bertasbih dan menyerahkan hidup mati, sehat
sakit, kaya miskin, dan semua persoalan kepada Mu”
b) Menurut: “ Aku menurut kepada semua
perintah-Mu. Ampunilah dosa dosaku”
Tambahan (jika ingin lebih detail)
a) Wahai Allah, aku mempunyai masalah
yaitu (sebutkan masalah maslaha yang kamu hadapi)
b) Wahai Allah, aku ikhlas, ridlo,
tidak mengeluh, itu karena kebodohanku. Ampunilah aku.
c) Wahai Allah, aku yakin (3x) Engkau
pasti (3x) menyayangi aku, dan tidak mungkin membiarkan aku sendirian
menghadapi masalah dan harapanku itu.
d) Wahai Allah, aku pasrah (3x), aku
pasrahkan masalah tersebut kepada-Mu. Terserah Engkau, sebab Engkau pasti (3x)
memberi yang terbaik untukkuu. Aku ikhlas apapun keputusan-Mu.
3.
Posisi i’tidal.
Kalimat kunci yang digunakan adalah HADIR. Singkatan dari
Hak pujian dan Takdir.
Renungan/ doa (dalam hati, tidak boleh diucapkan)
a) Hak Pujian: “ Hanya Engkau yang
berhak dipuji. Ampunilah aku karena terlintas mengharap pujian manusia”
b) Takdir Allah: “Semua hal terjadi
atas takdir-Mu. Aku ridlo dan ikhlas menerimanya”
Tambahan (jika ingin lebih detail)
a) Wahai Allah,hapuskan di hatiku darimengharap penghormatan,
pujiandan terima kasih orang. Sebaliknya, jadikan aku selalu menghormati,
menghargai dan berterima kasih kepada orang. Kuatkan kesabaranku menghadapi
cacian dan kezaliman orang.
b) Aku ikhas, ridlo, tidak mengeluh atas semua takdir Mu. Rencana Mu
pasti (3x) lebih baik dari rencana hidupku. Takdir Mu pasti (3x) yang terbaik
untukku.
4.
Posisi sujud.
Kalimat kunci yang digunakan adalah MASJID. Singkatan dari
Maaf, Sinar, Jiwa dan Raga.
Renungan/ doa (dalam hati, tidak boleh diucapkan)
a) Maaf: “Maafkan dosa dosaku, bapak ibu, dan keluargaku”
b) Sinar: “ Sinarilah hati, lidah, mata, dan telingaku agar selalu
berbuat yang Engkau ridlai”
c) Jiwa Raga: “Jiwa dan ragaku dalam kekuasaan-Mu. Aku serahkan hidup
mati, sehat sakit, kaya miskin, dan semua persoalan kepada Mu”
5.
Posisi duduk antara dua sujud.
Kalimat kunci yang digunakan adalah AKSI. Singkatan dari
Ampunan, kasih, sejahtera, dan iman.
Renungan/ doa (dalam hati, tidak boleh diucapkan)
Wahai Allah, berilah aku: “Ampunan, kasih, sejahtera, dan iman”
Tambahan (jika ingin lebih detail)
a) Wahai Allah, ampunilah dosa dosaku.
b) Kasihanilah aku. Cintailah aku. Jadikan
hidupku penuh kasih bersama keluargaku. Kepadasiapa lagi aku memohon belas
kasih jika bukan kepada-Mu.
c) Berilah aku rizki yang melimpah
untuk keluarga, syiar agama, dan menolong fakir miskin Jadikank lebih
senang memberi darpada diberi. Berilah aku kesehatan dan kesembuhan dari semua
penyakit.
d) Kuatkanlah imanku, agar aku semakin
dekat dengan-Mu, sabar dan tegar menghadapi apapun cobaan dari Mu.
6.
Posisi tasyahud.
Kalimat kunci yang digunakan adalah SOSIAL. Singkatan dari
Sholawat, persaksian, dan tawakal.
Renungan/ doa (dalam hati, tidak boleh diucapkan)
a) Sholawat: “Sholawat dan salam untuk Nabi SAW. Berikan aku kekuatan
menyontoh akhlaknya”
b) Persaksian: “Aku bersaksi, ‘TiadaTuhan selain Engkau, dan Muhammad
adalah utusan-Mu’. Jadikan syahadat pegangan dan penutup hidupku”
c) Tawakal: “Aku serahkan hidup mati, sehat sakit, kaya miskin dan
semua persoalan kepada Mu”
Tambahan (jika ingin lebih detail)
a) Jadikan aku, istri/suami dan anak anakku berakhlak seperti
nabi-Mu. Mudahkan aku dan keluarga beribadah di Mekah dan Madinah, serta berdoa
di dekat makam nabi-Mu. Aku berharap di hari kiamat kelak, mendapat syafaat
Nabi-Mu. Di surga, Engkau pertemukan kami sekeluarga dengan nabi-Mu.
b) Jadikan syahadat penambah percaya diriku, penghilang kecemasanku,
penyemangat kerjaku, dan penguat optimisku. Jadikan la ilaha illallah kata terakhirku ketika malaikat izrail
mencabut nyawaku.
c) Lanjutkan doa seperti pada posisi rukuk dan kaitkan dengan daftar
masalah hidup.
d) Wahai Allah, sekarang aku lebih bahagia. Aku akan menoleh ke kanan
dan kiri. Berikan kemudahan hidup, kesuksesan dan kebahagiaan semua orang di
sebelah kanan dan kiriku, assalamualaikum warahmatullah.
Penjelasan diatas merupakan penjelasan runtutan pendalaman terap
sholat bahagia yang telah dilaksanaka pada sabtu, 23 november 2019.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar